Senin, 09 Maret 2020


SURAU TUA MENJADI SAKSI
                                                               Oleh : Wahyu Priyanti
Hai anak muda
Yang memiliki cita dan asa
Pengobar panji dan risalah
Kebenaran dan keimanan

Tanggung jawab negeri ada dipundakmu
Tanggung jawab agama juga ada di pundak dan hatimu
Saat impian tak ada yang mampu menahan
Saat semangat tak ada yang mampu mematahkan
Saat cibiran tak akan pernah menyurutkan
Dan saat ancaman akan semakin menguatkan

Surau tua itu menjadi saksi
Tilawah pengobar semangatmu
Tausiah pelurus niatmu
Diskusi panjang sebagai arah jejak langkahmu

Pagi pagi yang masih sepi
Tak seorang manusiapun hadir kecuali kau anak anak muda
Berjalan kaki yang setiap langkahnya menjadi saksi
Ada yang naik sepeda pancal yang setiap putaran rodanya menjadi hitungan amal nanti

Surau tua itu menjadi saksi
Bahwa kita pernah bersama melangkah sepenuh cita
Hingga saat ini bertebaran dimuka bumi



APAKAH LANGIT AKAN MENANGIS UNTUKKU


Saat nya berbicara tentang diri kita
Bahwa hidup kita ada mula dan memiliki akhir
Memiliki batas yang manusia tak akan pernah tahu kapan waktunya

Namun
Saat kita berbicara tentang  hidup
Ingin mengukir seperti apa akhir hidup yang kita inginkan?
Atau sama sekali bayangan itu tak pernah hadir dalam diri kita
Apakah harus menunggu jiwa hampir hilang baru kita tersadar?

Saat berbicara tentang diri kita
Ingin mengukir akhir yang seperti apa
Apakah langit ikut menangis atau ia akan tertawa kehilangan
Apakah bumi akan bersedih atau bumi pun ikut bersuka ria karena kita tiada
Dan apakah lubang itu akan memberi lapang ketika kita datang

Apakah langit akan menangis untukku?
Pasti itu yang kumau
Namun aku ragu apakah sujudku cukup untuk merayu
Apakah tilawahku impas dengan banyaknya dosaku?
Doaku melangit tak ragu untuk menuju
Mengharap kasih sayang Sang Penguasa Alam




DARI SANA SEMUA BERMULA

Oleh : Wahyu Priyanti 

Tak ada hari tanpa linangan air mata
Mengalir deras menyerbu pertahanan jiwa
Tak tertahan karena rapuhnya jiwa
Tertunduk lemah tak ada daya
Malam itu
Sepi
Banyak orang,namun tak ada suara
Terhakimi tak ada pembelaan lagi
Hanya penuntut  yang menghakimi
Oh Tuhan
Dari sana semua bermula
Rintihan yang melahirkan linangan
Pergi
Menjauh
Berharap terlupakan
Dengan pengalaman baru
Dari sana semua bermula
Dan dari sana
Lelah meratapi itu ada
Buang kesedihan membangun harapan
Bangkitkan keberanian hilangkan keputusasaan
Tuhan
Sekarang aku bersyukur
Karenamu semua terjadi
Jatuh namun membangunkan
Patah namun menyampbungkan
Sakit yang tergantikan
Terima kasih Tuhan



Membangun Marwah Instansi Dunia Pendidikan Indonesia

Membangun Marwah Instansi Dunia Pendidikan Indonesia Wahyu Priyanti, S.Pd .,M.Pd.I                                                          ...